3 Tips Mengendalikan Kecemasan dan Kekhawatiran di Tengah Penyebaran Omicron

Selama 2 tahun terakhir kecemasan dan kekhawatiran tentang bahaya Covid-19 terus menghantui kita. Pada awal penyebaran Covid-19 pada Maret 2020, kita terpaksa berdiam diri di rumah tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya. Kemudian para ahli mulai mempelajari apa yang menyebabkan virus itu menular termasuk, makan di luar ruangan, berkerumun, dan menjaga jarak.

Pada musim semi, para ahli menemukan harapan menghentikan pandemi dengan bentuk vaksin yang disetujui oleh FDA sampai akhirnya varian Delta membuat cemas dan para ahli masih berusaha untuk menyebarluaskan dosis vaksin ke setiap negara. Namun akhir 2021 dikejutkan dengan munculnya varian Omicron. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan banyak orang.

“Kecemasan adalah sistem peringatan,” kata psikolog klinis, Helene Brenner. Kecemasan berfungsi untuk memperingatkan kita akan kemunculan bahaya atau ancaman. Menurut Dr. Branner, setelah mendengar berita tentang pandemi tubuh kita akan bereaksi ketika ketakutan dan merasa terancam salah satunya dengan menimbulkan kecemasan.

Dengan pemikiran ini, psikoterapis dan ahli saraf berlisensi Nan Wise, mengatakan varian COVID yang muncul pada akhirnya merupakan masalah ketidakpastian, itulah sebabnya mereka menyebabkan kecemasan yang membingungkan. Tidak mengetahui apakah varian baru akan lebih menular dan parah dan juga tidak yakin tentang bagaimana vaksin pelindung melawannya adalah pertanyaan dengan jawaban yang tidak pasti, yang hanya akan memicu kecemasan varian COVID.

Tetapi karena kecemasan itu menjadi tujuan yang bermanfaat untuk mengingatkan kita akan bahaya nyata, dan jawaban untuk mengatasinya bukan untuk menghilangkannya, melainkan mempelajari cara untuk menanganinya.

Berikut ini 3 cara mengelola kecemasan akibat varian Omicron menurut pakar kesehatan mental

1. Jangan menekan kecemasan Anda

Tujuan Anda bukan untuk menghilangkan kecemasan varian Covid-19 melainkan untuk menyadarinya dan menanganinya. Carla Marie Manly, seorang psikoterapis mengatakan, jika ia membaca sesuatu yang membantunya cemas. Dia akan berhenti dan bernafas untuk menanganinya saat itu. “Ketika kita sedang cemas dan melewatinya, kita membantu sistem saraf pusat untuk menurunkan regulasi,” kata Manly. Di situ waktunya Anda mengatur kembali pernafasan Anda.

2. Tetap terinformasi, tetapi jangan biarkan berita mengambil alih diri Anda

Terutama dalam hal penyakit mematikan, sangat penting untuk mengetahui berita terbaru. Karena itu, Anda juga mendapat manfaat dari menjauh dari berita dan media sosial setelah Anda mendapatkan informasi terbaru. Jika tidak, pengalaman berulang kali dibombardir dengan informasi dapat mmempengaruhi emosi kita dan, pada gilirannya, pikiran kita. “Itu bisa menjadi pemicu stres dengan sendirinya,” kata psikoterapis dan ahli saraf berlisensi Nan Wise. “Terlalu banyak media sosial membajak dopamin di otak kita, yang mengganggu kemampuan kita untuk bisa rileks.”

Menurut Dr. Manly, jawabannya di sini adalah menyadari apa dan berapa banyak yang Anda konsumsi dan kapan. Dia menyarankan untuk memeriksa berita di pagi hari sehingga otak Anda memiliki waktu sehari penuh untuk memproses informasi itu serta menyortir bagaimana perasaan Anda tentangnya. Jika Anda merasa sangat terpengaruh saat menonton berita, cobalah mendengarkannya di radio atau membacanya. Dr. Manly mengatakan menghilangkan komponen stimulasi visual dapat membuat otak Anda tidak terlalu terpengaruh. Dengan penuh perhatian perhatikan bagaimana berbagai bentuk konsumsi memengaruhi Anda, dan pilih bentuk apa pun yang memungkinkan Anda tetap terinformasi dan kuat secara mental.

3. Lakukan hal-hal yang Anda sukai (dengan aman)

Ini berarti Anda bisa menghabiskan waktu dengan bertemu orang-orang yang Anda sayangi. “Isolasi mandiri memiliki efek berjangka panjang pada manusia. Saya melihat lebih banyak depresi, kecemasan, dan masalah jangka panjang ketika mereka tidak terhunung dengan siapa pun karena harus di rumah sepanjang waktu,” kata Dr. Brenner.

Tentu saja, tidak semua orang merasa nyaman bergaul dengan orang lain secara langsung. Jika melakukan itu bukan satu hal yang menyenangkan Anda, cobalah untuk berjalan-jalan, menari, atau mewarnai. Apa pun yang Anda bisa lakukan untuk bersenang-senang. “Relaksasi dan kesenangan berbanding balik dengan kecemasan, Anda tidak bisa bersenang-senang dan cemas pada waktu yang bersamaan. Maka lakukanlah apa yang membuatmu tertawa,” kata Dr. Branner.

Jangan lupa #PakaiMasker #JagaJarak #CuciTangan #BatasiMobilitas #JauhiKerumunan

SHELAMITA AZZAHRA | WELL AND GOOD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.